Pertandingan sengit antara dua kubu, berujung pada kemenangan atas Audacia FC
P
|
ertandingan tadi,
dilangsungkan sore hari mulai pukul 16.15 WIB berjalan dengan baik dan tenang.
Walaupun hujan mengguyur lapangan hijau, Audacia tetap bermain lancar dan
sportif. “pertandingan kali ini tidak ada konflik antar pemain yang berujung
perkelahian dan cekcok, namun terlihat baik-baik saja,” kata salah satu
penonton yang termasuk suporter Audacia FC, Windu(19).
Buah
manis dirasakan oleh pihak Audacia FC khususnya pemainnya dengan kemenangan
yang dipegang. Audacia unggul 2 skor dari Flare FC. Latihan secara rutin
terlihat serius dengan pelatihnya yang ulung, yaitu Briant Hesnanta yang juga
pernah bermain membela tim ini 3 kali berturut-turut. “kali ini ada
perkembangan, sudah kompak, mau berbagi dan tidak egois antar pemain,” tuturnya
dengan bangga.
Nama
baru
Guyuran
hujan tak menghalangi pendukung Audacia FC dalam dukungannya tadi. Suara seruan
setiap suporter terasa saat Audacia menambah perolehan skor. Gebukan drum yang
selalu dikumandangkan dalam rangka memberikan semangat para pemain Audacia
dengan lagu-lagu yang ada. Kali ini pendukung Audacia diberi nama, yang
sebelumnya berjalan tanpa nama, sekarang bernama Spes Mania, menurut perjalanannya nama
ini diambil dari nama tim sepak bola seminari dahulu sebelum adanya Audacia,
“hitung-hitung menghargai ,” ucap Shindu, pencetus nama pendukung Audacia baru
itu.
Flashback
Jika
ditengok ke belakang, Audacia sempat kalah oleh tim Vitality FC dan mendapat
juara dua. Dalam sejarahnya, Audacia adalah tim yang kuat, susah untuk
dijatuhkan oleh tim-tim lain terbukti, juara satu menjadi rata-rata perolehan
sampai saat ini. Pertahanan yang kuat dan strategi yang dipikirkan betul
menjadi bekal untuk mengikuti laga yang bergengsi ini. Fisik yang kuat hasil
dari latihan yang rutin dilaksanakan. Yang lalu menjadi pengalaman suram dari
pihak Audacia dan yang sekarang adalah kebahagiaan.
Suramnya kekalahan musim lalu dikarenakan kurangnya perhatian dari kualifikasi skill pemain dari tim ini. Kekurangan tak-tik juga mengakibatkan benteng Audacia gampang dirobohkan oleh tim lawan. Kelemahan itu menjadi peluang baik bagi lawan untuk meruntuhkan pertahanan Audacia. Rasanya kekalahan itu menjadi pelajaran bagi pemain-pemain masa depan agar lebih baik lagi dalam menyusun strategi pertandingan.
Belajar
dari pengalaman, tentunya tidak lagi memakai cara yang lalu, dengan hasil yang
jelas mengecewakan namun memamakai cara baru yang memuaskan semua pihak.
Pelatih pun tentunya tak mau hal yang lalu terulang kembali, maka dari itu
kualifikasi pemain dibuat lebih ketat.
Pemain-pemain
legendaris turut hadir dan melihat pertandingan ini yang juga menjadi Spes
Mania. Mereka terlihat bangga akan perolehan hasil ini, dapat menhgharumkan
nama pendahulu. Usut punya usut, pemain legendaris ini bukan hanya sekedar
alumni saja, namun ikut mendukung dan mendampingi generasi dibawahnya.
Terbukti, lewat dukungan mereka, pemain Audacia kini dapat meraih juara satu
dalam pertandingan.
Lanjutkan
OSIS
SMA Xaverius 1 Palembang adalah pihak yang mengadakan pertandingan ini. Dengan
nama Galaxy, laga ini terlihat bergengsi sekali walau pemain hanya intra
sekolah saja. Banyak manfaat yang dihasilkan dari liga ini, salah satunya
adalah kesehatan tubuh. Dengan adanya olahraga ini, para pemain sepakbola
diolah raganya sehingga mendapat kesehatan dan kejernihan pikiran. Menurut
saya, laga ini baik adanya untuk dilanjutakan, melihat potensi-potensi handal
para pemain, bisa jadi adanya kualifikasi kepada para pemain, sehingga dapat
meyumbangkan pemain kepada tim nasional.
Gambar Spes Mania menunggu pertandingan dimulai